

Bukunya lumayan kocak. Ga bikin ngakak sih, tapi bisa bikin senyum. Tokoh utamanya Rosid bin Mansur Bin Salim Bin Al-Gibran. Rosid yang berjiwa revolusioner (ini yang bikin gua ga salah beli), berniat manjangin rambutnya yang kribo (bukan manjangin ding, kribo) yah, disitulah awal permasalahan keberadaan Rosid di tengah keluarganya.
Sang bapa, Mansur bin Salim bin Al-Gibran ga seneng rambut Rosid yang kribo. Bukan apa-apa, marga Al-Gibran itu setiap tahun mengadakan acara kumpul keluarga, dan semuanya tuh harus make peci putih. Ngeliat rambut Rosid yang kribo, bapanya malu. Ga mungkin dia ngajak Rosid ke acara kumpul ribuan keluarga Al-Gibran itu tanpa peci. Kalo make peci, tuh peci ada jauh diatas kepala rosid. La wong rambutya kribo!!
Berbagai cara udah dikerahin supaya Rosid mau motong rambutnya. Tapi Rosid keukeuh buat manjangin rambutnya yang kaya gulali. Rosid mulai mempertanyakn keberadaan peci di atas kepala. Dari berdiskusi sama Delia[pacarnya yang lain agama], rosid sadar kalo peci tuh dipake sama 3 agama besar; yahudi, islam, dan katolik. Sebuah pertanya muncul dari benak Rosid; bagaimana awal mulanya sebuah peci di jadikan simbol agama oleh ketiga agam besar tersebut?
Sementara sang Abah nyerah dengan cara persuasif. Dengan saran temennya, Mansur bin Salim bin Al-Gibran datang ke orang pinter, gagal! ngebawa Rosid ke Ustadz muda berwibawa juga gagal, malah si Ustadz di ajak adu omong (dengan pengetahuan dari ahli sejarah).
Kejadian-kejadian tak terduga mulai berdatangan. Dari diusir dari rumah sama sang Babeh, sampe akhinya berujung pada di demonya rumah tempat kumpul kumpul Rosid sama temen-temennya diskusi di demo sama organisasi RADIKAL (Remaja Didikan Allah) yang berkoalisi sama oraganisasi FORMALIN (Forum Masyarakat Anti Ajaran Lain) karna dituduh tempat itu sebagai tempat tempat ajaran sesat.
Sayangnya, di akhir cerita Rosid memutuskan untuk motong rambutnya, dan akhir yang paling menyedihkan adalah berakhirnya hubungan Rosid dengn Delia karna perbedaan agama.
AGUS
AGUS